Thursday, 12 September 2013

Tatik Mau Beli Mimpi

"Dulu seorang kawan baik pernah menempuh perjalanan dan tinggal selama beberapa minggu di sebuah desa di lereng gunung. Suatu kali ia bercerita tentang "kebiasaan yang terlanjur turun & menurun" di desa tersebut yang kerap kali mengorbankan masa depan wanita untu memperoleh pendidikan dan masa depan yang lebih bersaing, dibanding sekedar menjadi petani, istri dan mesin beranak (begitu katanya pada saya) saja. Lalu demikianlah saya coba merangkum cerita perjalanannya, analisis sosial -antropologisnya dipadu-padan-kan dengan imajinasi saya. Sebuah pembuka dari rangkaian cerita yang berkelana. Semoga berkenan."

Tekadnya sudah bulat. Ia tak ingin hanya berakhir menjadi maestro di dapur pengap penuh asap menghadapi segala panci dan wajan berpantat hitam dijilat lidah api kekayu. Tak ingin hanya menjadi pewaris sawah ladang milik bapaknya yang dengan sebuah ikatan perkawinan akan dibagi dengan sang suami kelak. Baginya kodrat wanita bukan sekedar perantara warisan atau maestro dapur pengap dengan onderdil tradisional. Apalagi dibilang wanita itu tugasnya cuma masak dan beranak. Enak saja! Memangnya sebegitu rupa enaknya mengandung dan beranak.
Hartatibegitu namanya. Gadis muda hampir jelang 20 tahun. Rambutnya hitam kelam seperti malam saat bulan mati lebih sering dibiarkannya tergerai. Kulitnya coklat terbakar matahari lereng gunung yang rajin sekali bersinar di dusunnya.
Biar saja! Aku tak mau seperti si Denok atau Watik yang selalu menggelung rambutnya demi kepatutan. Opo yen rambutku tak gerai ki ora patut to, mbokItu kan cuma aturan yang nggak jelas dari siapa dan buat apa kan, mbok? ” Sanggah si gadis muda setiap simbok berusaha mengingatkan lagi-lagi tentang bagaimana seharusnya seorang anak gadis berelok rupa.
Sejak kecil selalu ia bayangkan tentang tokoh tentang Srikandi. Tak pernah dihiraukannya apakah itu hanya sosok rekaan atau bukan, yang jelas sosok wanita pemanah dalam dunia paralel pewayangan itu benar-benar menjadi idolanya.Yang jelas suatu malam ketika bapak mengajaknya ke hajatan Pakdhe Srihadi yang nanggap wayang dalam rangka sunatan anak bungsunya, Tatik langsung kepincut dengan sosok Srikandi dalam lakon yang dibawakan seorang dalang dari Purwokerto itu. Srikandi yang gagah berani, yang tidak mau terikat dalam kekangan.
Sesuk aku kepengen koyo Srikandi, pak!” Begitu koarnya sembari terlarut dalam khayal di gendongan bapak sepulang hajatan.

Rentetan waktu mengajak Hartati kecil beranjak remaja. Gadis kecil yang dulu mengidolakan Srikandi itu kini menjadi seorang Hartati yang penuh jawaban. Sejak bapaknya berkata akan menjodohkan Hartati dengan Gunawan, pemuda desa yang terpaut 7 tahun usia, segala macam alasan sudah dimuntahkannya demi menolak perjodohan yang baginya sangat konyol dirasa. Apalagi adat di desanya yang mengatur anak wanita adalah pewaris harta, sawah ladang atau ternak punya orang tua. Semua itu cuma menempatkan wanita-wanita untuk kawin muda. Berakhir sebagai penguasa dapur juga sekaligus produsen keturunan.
Lantas kapan wanita di dusun kita bisa pinter,mbok? Rak yo bapak sama simbok yang nyuruh supaya aku sekolah pinter. Sekarang saya kepengen jadi orang pinter, mbok. Tapi kalo begini caranya kapan aku iso pinter. Kalo begitu ‘mentes’ sudah dijodoh-jodohkan? Sudah dipaksa kawin cuma demi alasan kejelasan siapa yang akan mengurusi warisan orang tuanya?” ujarnya suatu malam dengan berapi-api.
Simboknya hanya bisa diam, mengelus rambut panjang putri semata wayangnya dengan mata berkaca-kaca. Suara lembut simboknya hanya tersimpan rapi dalam batin. Tenggorokannya serasa diganjal kapuk dari pohon randu keramat di ujung dusun. Siapa sangka doa yang dulu pernah dipanjatkan pada Gusti Allah saat ia dengan setengah hati menerima perjodohan dengan lelaki yang kini telah jadi suami dan memberinya seorang Srikandi lereng gunung terjawab sudah. Sungguh dalam hatinya ingin mengamini pendirian gila Hartati. Tapi apa daya, ia hanya seorang istri yang diwajibkan patuh dan mendukung penuh sang suami dengan segala keputusannya.
Ayam berkokok agak telat pagi ini, mungkin terlalu lelap tidurnya dibuai sandiwara radio yang disetel bapaknya Hartati semalaman. Simbok sudah sedari gelap pekat berkutat di dapur. Mengakrabi perabot dan kayu bakar disana. Bapak sejenak mulai beranjak dari dipan bambu tempatnya menghabiskan malam bersama tokoh-tokoh sandiwara radio. Hartati?
Hartati sudah ada di teras depan. Dengan celana jeans biru model baggy hadiah dari pakliknya dua musim lebaran yang lalu ia duduk tercenung. Menimang-nimang selembar brosur kertas berwarna mengkilat di tangannya. Tergeletak di bawah ada tas lusuh berwarna biru langit yang sudah sedari duduk di bangku SMP dipakainya. Warnanya agak pudar,mungkin karena terlalu rajin dicuci gara-gara tak mau nampak kotor dalam setiap performanya. Hari ini hari penentuan. Angannya melayang-layang kesana kemari. Membayangkan jalanan panjang yang akan ditempuhnya, dengan atau tanpa dukungan bapak juga simbok.
Bapak dan simbok..
Hari ini Tatik nyuwun pamit. Tatik mau memilih jalan Tatik. Tatik bukan mau durhaka sama bapak atau simbok, Tatik cuma ingin bapak juga simbok mau mengerti pilihan Tatik.
Tatik mau sekolah tinggi di kota, Tatik mau jadi guru. Tatik mau ngajari orang-orang desa supaya pinter. Supaya hidup mereka tidak melulu berkumpul dengan lumpur sawah atau asap dapur.
Bapak, simbok..
Tatik mohon bapak sama simbok bisa mengerti. Ini jalan yang Tatik pilih. Tatik janji pasti kembali kesini. Mencium kaki bapak sama simbok.
Bapak,simbok..
Doakan Tatik.. “
Mentari mulai meninggi perlahan bersama lalu lalang orang-orang memanggul cangkul. Beberapa gadis hanya berbalut jarik batik setengah pudar menggendong keranjang cucian.Sebagian hanya keranjang kosong dan sabit. Bocah-bocah berlarian mengejar gerobak penuh keranjang berisi wortel, daun kol, segala rupa sayur, yang ditarik sepasang sapi dengan malas. Lecut cemeti tak mampu menyuntikkan semangat pagi itu.


Di teras rumah bapak terduduk dengan gemetar tangannya memegang secarik kertas. Amplop sudah terjatuh dari tangan bapak. Tak sengaja cangkir kaleng hijau lurik berisi teh pun jatuh berkelontang di lantai semen. Simbok berlari tergopoh-gopoh dari dalam rumah. Diterpa silau pongah sang surya, air muka bapak dan simbok semakin jelas keriputnya, seolah waktu merenggut masa mereka 10 tahun lebih cepat. Air mata membanjir tanpa diperintah tanpa juga sedu sedan suara tangis. Hartati pergi membeli mimpi.

No comments:

Post a Comment