Tekadnya sudah bulat.
Ia tak ingin hanya berakhir menjadi maestro di dapur pengap penuh asap
menghadapi segala panci dan wajan berpantat hitam dijilat lidah api kekayu. Tak
ingin hanya menjadi pewaris sawah ladang milik bapaknya yang dengan sebuah
ikatan perkawinan akan dibagi dengan sang suami kelak. Baginya kodrat wanita
bukan sekedar perantara warisan atau maestro dapur pengap dengan onderdil
tradisional. Apalagi dibilang wanita itu tugasnya cuma masak dan beranak. Enak
saja! Memangnya sebegitu rupa enaknya mengandung dan beranak.
Hartati, begitu
namanya. Gadis muda hampir jelang 20 tahun. Rambutnya hitam kelam seperti malam
saat bulan mati lebih sering dibiarkannya tergerai. Kulitnya coklat terbakar
matahari lereng gunung yang rajin sekali bersinar di dusunnya.
“Biar saja! Aku tak
mau seperti si Denok atau Watik yang selalu menggelung rambutnya demi kepatutan. Opo yen rambutku tak gerai ki ora patut
to, mbok? Itu kan cuma aturan yang nggak jelas dari siapa dan buat apa kan,
mbok? ” Sanggah si gadis muda setiap simbok berusaha mengingatkan lagi-lagi tentang
bagaimana seharusnya seorang anak gadis berelok rupa.
Sejak kecil selalu ia
bayangkan tentang tokoh tentang Srikandi. Tak pernah dihiraukannya apakah itu
hanya sosok rekaan atau bukan, yang jelas sosok wanita pemanah dalam dunia
paralel pewayangan itu benar-benar menjadi idolanya.Yang jelas suatu malam
ketika bapak mengajaknya ke hajatan Pakdhe Srihadi yang nanggap wayang dalam
rangka sunatan anak bungsunya, Tatik langsung kepincut dengan sosok Srikandi
dalam lakon yang dibawakan seorang dalang dari Purwokerto itu. Srikandi yang
gagah berani, yang tidak mau terikat dalam kekangan.
“Sesuk
aku kepengen koyo Srikandi, pak!”
Begitu koarnya sembari terlarut dalam khayal di gendongan bapak sepulang
hajatan.
Rentetan waktu
mengajak Hartati kecil beranjak remaja. Gadis kecil yang dulu mengidolakan
Srikandi itu kini menjadi seorang Hartati yang penuh jawaban. Sejak bapaknya berkata
akan menjodohkan Hartati dengan Gunawan, pemuda desa yang terpaut 7 tahun usia,
segala macam alasan sudah dimuntahkannya demi menolak perjodohan yang baginya
sangat konyol dirasa. Apalagi adat di desanya yang mengatur anak wanita adalah
pewaris harta, sawah ladang atau ternak punya orang tua. Semua itu cuma menempatkan
wanita-wanita untuk kawin muda. Berakhir sebagai penguasa dapur juga sekaligus
produsen keturunan.
“Lantas kapan wanita
di dusun kita bisa pinter,mbok? Rak yo bapak sama simbok yang nyuruh supaya aku
sekolah pinter. Sekarang saya kepengen jadi orang pinter, mbok. Tapi kalo begini
caranya kapan aku iso pinter. Kalo begitu ‘mentes’ sudah dijodoh-jodohkan?
Sudah dipaksa kawin cuma demi alasan kejelasan siapa yang akan mengurusi
warisan orang tuanya?” ujarnya suatu malam dengan berapi-api.
Simboknya hanya bisa
diam, mengelus rambut panjang putri semata wayangnya dengan mata berkaca-kaca.
Suara lembut simboknya hanya tersimpan rapi dalam batin. Tenggorokannya serasa
diganjal kapuk dari pohon randu keramat di ujung dusun. Siapa sangka doa yang
dulu pernah dipanjatkan pada Gusti Allah saat ia dengan setengah hati menerima
perjodohan dengan lelaki yang kini telah jadi suami dan memberinya seorang Srikandi
lereng gunung terjawab sudah. Sungguh dalam hatinya ingin mengamini pendirian
gila Hartati. Tapi apa daya, ia hanya seorang istri yang diwajibkan patuh dan
mendukung penuh sang suami dengan segala keputusannya.
Ayam berkokok agak
telat pagi ini, mungkin terlalu lelap tidurnya dibuai sandiwara radio yang
disetel bapaknya Hartati semalaman. Simbok sudah sedari gelap pekat berkutat di
dapur. Mengakrabi perabot dan kayu bakar disana. Bapak sejenak mulai beranjak
dari dipan bambu tempatnya menghabiskan malam bersama tokoh-tokoh sandiwara
radio. Hartati?
Hartati sudah ada di
teras depan. Dengan celana jeans biru model baggy
hadiah dari pakliknya dua musim lebaran yang lalu ia duduk tercenung.
Menimang-nimang selembar brosur kertas berwarna mengkilat di tangannya.
Tergeletak di bawah ada tas lusuh berwarna biru langit yang sudah sedari duduk
di bangku SMP dipakainya. Warnanya agak pudar,mungkin karena terlalu rajin
dicuci gara-gara tak mau nampak kotor dalam setiap performanya. Hari ini hari
penentuan. Angannya melayang-layang kesana kemari. Membayangkan jalanan panjang
yang akan ditempuhnya, dengan atau tanpa dukungan bapak juga simbok.
“Bapak
dan simbok..
Hari
ini Tatik nyuwun pamit. Tatik mau memilih jalan Tatik. Tatik bukan mau durhaka
sama bapak atau simbok, Tatik cuma ingin bapak juga simbok mau mengerti pilihan
Tatik.
Tatik
mau sekolah tinggi di kota, Tatik mau jadi guru. Tatik mau ngajari orang-orang
desa supaya pinter. Supaya hidup mereka tidak melulu berkumpul dengan lumpur
sawah atau asap dapur.
Bapak,
simbok..
Tatik
mohon bapak sama simbok bisa mengerti. Ini jalan yang Tatik pilih. Tatik janji
pasti kembali kesini. Mencium kaki bapak sama simbok.
Bapak,simbok..
Doakan
Tatik.. “
Mentari mulai
meninggi perlahan bersama lalu lalang orang-orang memanggul cangkul. Beberapa
gadis hanya berbalut jarik batik setengah pudar menggendong keranjang
cucian.Sebagian hanya keranjang kosong dan sabit. Bocah-bocah berlarian
mengejar gerobak penuh keranjang berisi wortel, daun kol, segala rupa sayur,
yang ditarik sepasang sapi dengan malas. Lecut cemeti tak mampu menyuntikkan
semangat pagi itu.
Di teras rumah bapak
terduduk dengan gemetar tangannya memegang secarik kertas. Amplop sudah
terjatuh dari tangan bapak. Tak sengaja cangkir kaleng hijau lurik berisi teh
pun jatuh berkelontang di lantai semen. Simbok berlari tergopoh-gopoh dari
dalam rumah. Diterpa silau pongah sang surya, air muka bapak dan simbok semakin
jelas keriputnya, seolah waktu merenggut masa mereka 10 tahun lebih cepat. Air
mata membanjir tanpa diperintah tanpa juga sedu sedan suara tangis. Hartati
pergi membeli mimpi.


No comments:
Post a Comment