Monday, 6 January 2014

Lebih Baik Diam


_Harti duduk tercenung di sudut ruang. Bayinya yang belum genap 3 bulan itu menangis lantang, seperti corong masjid yang menyuarakan adzan. Di tangannya masih tergenggam pisau dapur yang biasa di pakainya menyiapkan segala macam masakan permintaan Tanto; suaminya yang gagah lagi pemarah, yang baru saja menjadi bangkai._

Kira-kira 2 tahun lalu, Hertanto Wijoyo, lelaki yang disebut ibunya sebagai pegawai negeri sipil bermasa depan cerah datang kerumah. Dengan tutur bahasa yang sangat teratur dan sistematis, seperti gaya para pegawai kantoran, disampaikan maksud kedatangannya untuk mempersunting Harti menjadi istrinya. Harti hanya mampu menguping pembicaraan itu dari balik korden kamarnya. Sejenak napas yg tertahan mendadak menjadi makin memburu. Menikah ? Secepat ini ? Edan opo ?!

"Kalau itu demikian niat Nak Tanto, ibu seneng sekali. Ibu yakin Nak Tanto mampu membimbing dan menjadi imam yang baik buat Harti."_ ujar ibunya

Tanto manggut-manggut sambil mengulum senyum. Sedikit mencuri lirikan ke balik korden, dimana ia yakin disana sosok wanita yang mengganggu mimpi-mimpinya sebulan lebih sedang bersembunyi.

 Suasana senyap hanya diiringi satu-dua jengkerik melatari

"Ibu ki piye to?! Harti emoh menikah sekarang! Apalagi sama mas Tanto. Harti baru kenal dengan mas Tanto belum genap sebulan. Sekarang malah ibu langsung meng-iyakan lamaran mas Tanto!! Harti juga punya hak untuk bicara,bu!! Pokok'e Harti emoh!"

"Hartii!!!"_ hardik ibunya sesaat disusul suara batuk.

"Ibu ki uwis sepuh..kamu kan juga uwis cukup umur...apalagi yang dipikir? Masih mikir untuk sekolah seperti yang kamu bilang?! Wong wadon ki ora usah sekolah dhuwur-dhuwur. Sing penting iso moco nulis, uwis cukup. Jaman ibu dulu, wong wadon kuwi..."

"Pokoke Harti emoh!!!!"

Temaram lampu kamar menerangi sesosok tubuh yang duduk di balik meja. Harti masih menatap buku dihadapannya.Menuruti huruf demi huruf yang menyusun kalimat-kalimat panjang. Pikirannya melayang-layang mencoba melukiskan betapa hebatnya Sachiko Murata bisa menggapai mimpinya bersekolah sampai begitu tinggi. Menendang kekangan dari kondisi sosial yang berusaha meredam ambisinya. Tak sadar Harti tersenyum, lalu meringis - kesakitan. Luka robek di bibirnya terasa menggigit. Luka karena tamparan Tanto kemarin malam. Tamparan keras yang hampir tiap hari menjadi ungkapan sayang mas Tanto.

Putri Hertanti Wijoyo, begitu nama yang disematkan untuk bayi perempuannya. Nama yang entah tak pernah dipikirnya apa artinya, kecuali doa dalam hatinya agar sang putri menjadi penghangat dalam kebekuan dunianya. Sayang doanya rupanya belum cukup memantik kehangatan antara ia dan mas Tanto. Bahkan belakangan semakin keras dan semakin sering saja tangan Tanto menyematkan luka. Terkadang hanya karena tangisan si bayi, lelaki yang dinikahi nya dengan setengah hati ini benar-benar jadi pemberang.

Pagi itu Harti tengah di dapur menyiapkan sarapan untuk Tanto yang sedang berpatut di depan cermin. Entah siapa yang meng-komando tiba-tiba suara tangis sang bayi pecah meriuhkan pagi.

"Tolong kau gendong Putri dulu,mas. Biar kuselesaikan sarapan pagimu"

Tak ada balasan apapun. Suara tangis masih terdengar. Harti terburu menyelesaikan sarapan pagi sang suami. Dibawanya nampan dengan tergesa ke ruang makan. Tak dilihatnya sang suami maupun putri kecilnya.

Suara tangis terdengar dari ruang tamu. Terputus-putus. Tapi tak terdengar suara sang suami. Disibakkannya korden. Tangan kekar yang lebih sering berbicara ketimbang mulut pemiliknya itu dibekapkan ke mulut mungil bayi kecilnya sendiri.



Harti tak sempat berteriak. Dengan setingkah gerakan yang cepat dan panik, direbutnya bayi mungil yang tersengal menjemput habisnya nafas itu dari dekap ayahnya. Berbalik Tanti cepat masuk ke dalam. Si lelaki mengejar dengan langkah marah. Geram amarahnya tertumpah dengan teriak yang seketika terpotong. Ada perih menusuk perutnnya, lalu leher, lalu dada.

Pagi ini,hem putih bergaris dan dasi Tanto tak lagi putih. Agak ternoda merah. Lalu semakin pekat. Merah gelap jelaga darah - bersimbah membanjir dari luka yang menganga.
Pagi ini,suara Tanto yang biasa lantang berteriak penuh perintah terdengar tertahan. Tangannya memegang lehernya. Mungkin menahan supaya suara lantang tak ikut semakin berhambur dengan merahnya darah.

Disana - di sudut ruangan.
Harti duduk tercenung di sudut ruang. Bayinya yang belum genap 3 bulan itu menangis lantang, seperti corong masjid yang menyuarakan adzan. Di tangannya masih tergenggam pisau dapur yang biasa di pakainya menyiapkan segala macam masakan permintaan Tanto; suaminya yang gagah lagi pemarah, yang baru saja menjadi bangkai.



















*jogja-oktober2010